Juli 27, 2009
Bahaya AntibiotiK
Saya termasuk orang yang paling tidak kuat menahan sakit, sehingga sakit flu pun langsung ke dokter karena khawatir dgn obat2an yg dijual bebas. Namum ada pemahaman yg cukup membuat saya penasaran yaitu akan bahayanya antibiotik. Karena penasaran maka saya pun search di google ttg bahayanya. Semoga artikel ini bisa membantu dan informatif.
Hampir semua orang pernah menggunakan antibiotik, baik dalam bentuk tablet, sirup maupun obat oles. Antibiotik telah 70 tahun lebih digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri. Penyakit serius, seperi, tuberkulosis atau kolera, yang ratusan tahun lalu merupakan penyakit fatal bagi seluruh umat manusia, kini tidak lagi merupakan ancaman seperti dulu. Penyakit klasik yang menggunakan antibiotik untuk mengatasinya adalah infeksi kandung kemih dan radang amandel.
Antibiotik sering digunakan untuk mencegah bakteri bergerak dari kandung kemih ke ginjal. Dampak sampingnya sangat jarang. Obat antibiotik bagus untuk tubuh. Namun di sejumlah kasus, pasien gagal mengkonsumsi antibiotik secara tepat. Hal itu di antaranya dapat mempengaruhi bakteri usus dan memicu diare di sejumlah orang. Reaksi alergi kulit juga dapat terjadi jika obat oles digunakan dalam jangka waktu panjang. Konsumsi alkohol saat sedang menggunakan antibiotik juga sangat berbahaya. “Itu dapat memicu komplikasi pada hati sebagai dampak penggunaan alkohol,” kata Constanze Wendt dari Lembaga Ilmu Kesehatan di Heidelberg. Antibiotik dapat juga mengurangi efektivitas pil kontrasepsi. Antibiotik berfungsi mencegah pertumbuhan bakteri. Mereka dibuat dengan berbagai cara berbeda. “Antibiotik yang banyak dijumpai adalah penisilin, namun juga ada antibiotik sintetis,” kata kata Ursula Sellerberg dari Asosiasi Apoteker Jerman, yang berkantor pusat di Berlin. Antibiotik ada dua jenis, yaitu yang berspektrum luas dan yang berspektrum sempit. Sebagaimana namanya, antibiotik dengan spektrum luas efektif untuk melawan bakteri dengan jenis beragam, sedangkan yang berspektrum sempit untuk memerangi bakteri dengan jenis spesifik. Oleh karena penggunaan antibiotik sangat beragam, maka sejumlah bakteri menjadi resisten terhadap antibiotik. Mereka tidak lagi dapat diatasi dengan obat konvensional, seperti antibiotik berspektrum luas. Untuk mencegah bakteri menjadi resisten, antibiotik hanya dapat digunakan dengan pengawasan resep dokter di sejumlah negara. Tapi, itu bukan masalah di banyak tempat. “Di Spanyol, misalnya, dimana antibiotik dapat dibeli di gerai obat. Kasus resistensi obat sangat tinggi,” kata Sellerberg. Industri obat juga segan mengeluarkan antibiotik temuan baru ke pasar untuk menjaga efektivitas dalam kasus darurat, yang serius. Kebanyakan dokter sekarang sangat hati-hati memastikan dan tidak meresepkan antibiotik terlalu awal dalam masa perawatan. “Dalam kasus anak-anak, kami merawat penyakit infeksi tropis, seperti, sinusitis dengan mengurangi pembengkakan,” kata Michael Deeg, ahli telinga, hidung dan tenggorokan, di Freiburg, Jerman Barat Daya.
Antibiotik baru akan digunakan ketika infeksi makin berkembang, namun bahkan pada tahap itu, dokter masih mencoba menemukan metode paling efektif untuk memerangi infeksi. “Sebuah sampel cairan tengah diteliti di laboratorium untuk menemukan cara terbaik memerangi bibit penyakit,” katanya. Antibiotik bekerja dengan cepat setelah dikonsumsi. “Di sejumlah kasus, pasien bebas dari seluruh gejala dalam beberapa jam,” kata Sellerberg. Namun, itu adalah saat pasien berada dalam masa bahaya dimana penyakitnya bisa kambuh kembali. Terutama jika mereka berhenti mengonsumsi obat terlalu cepat, karena merasa membaik. Maka tidak semua bakteri telah terbunuh. Sellerberg dengan kuat mendorong pasien mengikuti jadwal perawatan sepanjang perintah dokter. Itu akan mencegah peluang sejumlah bakteri bertahan dari pengobatan dan menjadi resisten. Setiap orang yang resisten jika terinfeksi dengan bakteri itu lagi tidak dapat lagi dirawat secara efektif dengan antibiotik sama. Pasien juga dapat bersikap skeptik ketika bicara mengenai antibiotik. “Antibiotik hendaknya tidak diresepkan sebagai upaya pencegahan. Mereka seharusnya hanya diberikan jika infeksi terjadi,” kata Wendt. Konsumsi tablet antibiotik untuk menanggulangi radang selaput lendir hidung adalah perawatan yang salah. Kebanyakan orang masih tidak peduli bahwa antibiotik tidak efektif melawan virus dan tidak dapat digunakan untuk memerangi flu biasa. Namun, Wendt mengatakan bahwa antibiotik masih merupakan cara paling efektif untuk merawat infeksi bakteri serius, seperti, meningitis atau infeksi paru-paru, yang dapat berakibat fatal jika tidak dirawat tepat waktu
Kapan anda perlu antibiotik ?
Kayaknya saya perlu membahas ini di awal, karena menurut saya inilah yang paling penting anda ketahui, kapan anda perlu antibiotik.
Jika dokter anda meresepkan antibiotik, berarti anda dianggap menderita penyakit yang diakibatkan oleh infeksi bakteri, tentunya dari pemeriksaan fisis, dan penunjang seperti laboratorium darah, kultur, dan sebagainya.
Seorang dokter yang baik akan mempertimbangkan apakah memang perlu untuk meresepkan antibiotik untuk anda, ataukah cukup dengan memberikan obat lainnya. Sebab tidak semua penyakit dengan demam perlu diterapi dengan antibiotik. Sebagai contoh bayi yang kurang mendapat asupan ASI dari ibunya bisa jadi demam. Yang menyebabkan demamnya pada hal ini adalah dehidrasi, bukan infeksi. Anak yang menderita batuk, pilek yang tidak khas, bisa saja menderita common cold yang penyebab utamanya adalah virus, tentunya tak ada guna dengan antibiotik.
Atau kadang obat antibiotik diberikan juga untuk pencegahan. Jika memang ada alasan untuk pencegahan yang benar, misalnya untuk pasien yang akan menjalani operasi saluran cerna, yang sangat beresiko bakteri saluran cerna masuk lewat luka operasi yang dibuat, lalu beredar ke seluruh tubuh, maka dokter bedah biasanya memberikan instruksi pemberian antibiotik beberapa waktu sebelum operasi
Apa efek samping yang mungkin timbul dari penggunaan antibiotik ?
Sangat banyak. Namun yang perlu anda ketahui tentang efek samping, yaitu dia tidak mesti timbul. Artinya dari segala macam yang tertera di buku tentang efek samping antibiotik, tidak ada panduan yang mana yang akan anda derita, itu sangat subyektif. Juga tidak beralasan untuk tidak meminum antibiotik yang diresepkan dengan alasan menghindari efek samping. Kita tidak akan pernah tahu kapan efek samping akan muncul. Dokter hanya akan memberi peringatan bagi pasien kalau-kalau dia merasa demikian dan demikian, maka bisa jadi itu efek samping yang timbul.
Kecuali, alergi. Jika anda pernah mengalami alergi dengan salah satu antibiotik, besar kemungkinan anda akan mengalaminya lagi jika diberikan antibiotik yang sama. Yang paling ditakutkan adalah syok anafilaktik, yaitu reaksi alergi yang sangat serius, berupa penurunan tekanan darah drastis, kegagalan jantung memompa, yang berakhir pada kematian.
Yang jelas, meminum antibiotik tidak sesuai indikasi, apalagi beli sendiri, sangat beresiko tinggi menimbulkan efek samping. Dan anda tidak tahu bagaimana menanganinya bukan ?
Adapun penggunaan antibiotik dalam waktu yang lama, memang sangat mungkin untuk menimbulkan efek samping berupa reaksi alergi, pertumbuhan jamur, gangguan fungsi organ seperti hati, ginjal, atau organ pendengaran. Yang jelas, penggunaan antibiotik dalam jangka waktu yang lama haruslah di bawah pengawasan dokter yang berkompeten, dan tahu efek yang bisa timbul dari obat yang diberikannya.
Minum antibotiknya hingga tuntas, berantas habis mikroba dalam tubuh anda. Tentunya anda tidak ingin mikroba dalam tubuh anda resisten, dan menunggu hingga pertahanan tubuh anda kembali lemah untuk beraksi kembali. Masalah resistensi adalah masalah yang pelik, butuh kerjasama yang kuat dari banyak pihak seperti dokter, pasien, farmasi, dan pemerintah untuk menangkalnya.
Sumber: Kapanlagi.com
klub-melilea berkata,
September 30, 2009 pada 2:56 am
ok nice artikel izin di share yah.. ^_^