Juli 26, 2009

Sebuah RenunGaN TentanG PernikahaN

Ditulis dalam Renungan pada 10:08 am oleh gessi

Dulu ada eranya di mana perempuan yang sudah menikah saat usia 20 an, maka akan dibilang laku, hebat, menikah merupakan prestasi. Jadi jika saat itu ada wanita hampir usia 30 belum menikah, ia akan merasa rendah diri. Tapi sekarang, eranya sudah bergeser. Wanita lebih memilih menyelesaikan pendidikan tingginya, lalu bekerja, kemudian menikah. So, deadline menikah mereka menjadi mundur, ntar aja usia 27 or 28 baru mikir nikah.

But, ketika usia sudah mencapai angka deadline, jodoh belum teraih, maka mulailah ia panik. Mengapa? Karena menikah masih dianggap sebuah achievement, sebuah prestasi, dan mungkin sebuah ujung dari kehidupan, terutama bagi wanita. Kemudian, mereka akan berpikir dari segi reproduksi, waduh.. gue udah 30 an nih, masih mungkin nggak ya hamil dan melahirkan? Bukankah resikonya lebih besar. Atau ‘ancaman’ bahwa perempuan yang belum hamil, melahirkan, dan menyusui di usia resiko itu akan mudah terkena penyakit kanker payudara dan kanker rahim.

Kemudian ada beberapa hal lain yang membuat wanita menjadi panik dan parno jika ia belum menikah di usia 30-an, selain faktor reproduksi dan kesehatan, yakni: Standar yang sudah ditentukan diri sendiri, bahwa ia harus menikah di usia 20 an, kemudian tuntutan keluarga (terutama ortu) dan tuntutan lingkungan, dan masalah achivement tadi.

Sehingga jika jodoh belum sampai padanya, maka si wanita lantas menjadi panik, dan seolah ‘kejar setoran’. Yang dikhawatirkan, ia akan bertindak gegabah, hanya mementingkan emosinya, siapa saja oke deh, yang penting gue nikah!

Padahal menikah mengandung konsekwensi, kewajiban, dan tanggung jawab yang nggak mudah dan ringan. Menikah jangan dipikir enaknya aja. Apa-apa yang bisa dikerjakan saat lajang, belum tentu diperoleh saat perempuan itu telah menikah. Jika ia menikah karena alasan emosi (daripada dibilang nggak laku? Daripada gue nunggu lagi padahal umur udah segini, dan alasan-alasan lain yang nggak rasional) ditakutkan pernikahan itu nggak membawa kebahagiaan baginya.

Pertamyaannya, mengapa banyak wanita masih melajang di usia 30-an? Karena posisi wanita dan pria sudah semakin equal, semakin seimbang, membuat perempuan mencari partner hidup yang bisa mengimbanginya. Pendidikan perempuan semakin tinggi, karirnya semakin berkembang, tapi ia masih menuntut mendapatkan jodoh yang lebih tinggi dan lebih baik darinya. Sehingga kesempatannya lebih kecil dan ada anggapan atau… jangan-jangan kualitas pria sekarang yang malah menurun?

Kalau mencari yang setara dan cocok, mungkin kesempatan itu lebih lebar. Nggak bisa dipungkiri juga, sebagai lajanger di usia 30, kadang malah kita yang disalahin. Inipun saya mengalami. Kalo ketemu temen lama yang sudah momong anak dan tau saya belum menikah, komentarnya biasanya:

“Lo milih-milih kali…”

“Mentingin karir aja sih, elo, kapan nikahnya?”

“Nggak nyari sih….”

Dibilang pemilih…. setiap orang pasti punya pilihan dan kriteria, sepanjang masih wajar. Apakah lantas karena usia sudah menginjak angka parno, kita main sabet yang ada di depan mata? Hanya demi menikah di usia yang kita inginkan? Bagaimana kalo jadinya pernikahan itu nggak membawa manfaat, hanya membawa mudharat? Nggak ok juga kan?

Menikah tidaklah semudah itu.. menurut saya menikah adalah fase baru dalam suatu kehidupan dimana kita harus benar2 prepare dan menyiapkan mental dan materiil kita..

Ini juga menjadi problem mengapa wanita sekarang masih melajang di usia 30-an. Kadang kita suka gengsi kalo dicarikan atau dijodohkan orang. Seolah nggak laku, atau nggak punya pilihan sendiri. Padahal cara Islam pun seperti ini. Saya nggak anti dikenalkan seseorang lewat perantara, termasuk dari ortu. Yah, kenalan dulu apa salahnya? Ortu juga nggak maksa jadi kok? Kalo nggak cocok ngapain dipaksa? Betul bukan? Karena pintu jodoh kan dari mana aja, bisa temen sendiri, bisa dari guru ngaji, bisa dari ortu, bisa tetangga sendiri, atau bisa mantan pacar? Who knows?

Banyak orang mengatakan bahwa hal yang tidak disukai dalam hidupnya adalah
menunggu. Menunggu memang membosankan. apalagi menunggu sesuatu yang belum
pasti terjadi. Tapi menunggu juga mengasyikkan karena melatih jiwa menuju
sabar. Sabar menunggu janji-Nya yang pasti terjadi, karena Allah Maha Menepati
Janji. Seandainya Allah tak memberi untuk kita jodoh di dunia, maka Dia akan
memberikannya di akhirat.

Tetap bersyukur dan meyakini bahwa Allah Mahaadil akan menguatkan jiwa kita
ketika ujian datang menyapa. Allah mengingatkan kita,”Apakah kamu mengira akan
masuk surga padahal belum datang kepadamu (ujian) seperti (yang dialami) orang-
orang terdahulu sebelum kami. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan,
diguncang (dengan berbagai cobaan). Sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman
bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah? Ingatlah sesungguhnya
pertolongan Allah itu dekat.” (QS Al-Baqarah: 214).

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.