Juli 6, 2009
PELUPA, Tips & Penanggulangannya
Sering lupa meletakkan kunci atau dompet? Atau, apakah Anda sering ketinggalan membawa barang? Berarti Anda tergolong pelupa. Ingin mengubah kebiasaan pelupa Anda?
Menurut buku ‘Metode Jitu Meningkatkan Daya Ingat’ yang ditulis oleh Deasy Harianti, untuk meningkatkan daya ingat ada dua hal penting. Atensi dan Konsentrasi.
Atensi adalah kebiasaan memperhatikan barang sekecil apapun. Seperti, menaruh pulpen, meletakkan kacamata, atau kunci rumah. Misalnya, saat Anda mengambil kunci rumah, coba diingat-ingat, di mana Anda mengambil itu, kunci apa yang Anda ambil, berntuknya seperti apa, dan di mana biasa Anda meletakkan kunci itu. Hal-hal kecil itu akan memberikan informasi pada otak yang merupakan proses atensi atau perhatian.
Jika proses atensi tersebut dijadikan kebiasaan terus-menerus, maka akan meningkatkan konsentrasi. Konsentrasi inilah yang akan membuat kita lebih fokus dan lebih mudah memanggil kembali ingatan kita akan sesuatu.
Selain itu, biasakan diri untuk tidak tergantung orang lain. “Kalau bergantung pada orang lain untuk mengingatkan sesuatu, kita tidak melatih diri dan otak kita. Sel-sel otak kita jumlah 1 trilyun. Dan, rata-rata manusia menggunakannya hanya 5 %. Untuk itu optimalkan sel-sel otak dengan melatih atensi dan konsentrasi. Berarti tanpa bergantung dari orang lain,” kata Deasy pada Talkshow penerbit Demedia berjudul ‘Memory Power’ di ajang Pesta Buku Jakarta.
Dalam buku tersebut, ada beberapa teknik untuk lebih mudah mengingat, yaitu:
1. Teknik plesetan.
Caranya dengan melatih bahasa asing. Salah satunya, ‘tounge’ yang artinya lidah. Anda membuat kalimat dari kata itu. Misalnya, lidah dijepit dengan tang. Kalimat itu ekstrem. Biasanya kalimat ekstrem akan menempel di otak. Teknik tersebut bisa terapkan pada anak sejak usia 5 tahun – sampai manula.
2. Mengenali ciri fisik
Ketika pertama kali kenalan, jika langung lupa nama orang yang dikenalkan pada Anda, ada cara jitu untuk mengingatnya. Misalnya, ketika Anda dikenalkan oleh si A. Coba perhatikan ciri fisiknya, apakah berambut keriting, bertubuh gemuk, atau berkacamata. Dari sini Anda bisa mengingat namanya dengan lebih jelas.
Penyakit lupa agaknya bukan hanya menimpa para manula, tapi juga wanita berusia muda. Apa penyebabnya dan bagaimana mengatasinya?
DIMENSIA VS KONSENTRASI BERCABANG
“Menurut teori, gejala kepikunan atau dimensia, biasanya mulai terjadi ketika seseorang menginjak usia 65 tahun, ujar dr. Sutarto, ahli saraf dari RS Pondok Indah. “Secara fisiologis, sel-sel otak bisa rusak dengan sendirinya seiring dengan pertambahan usia. Ketika mencapai usia 70 tahun, bagian otak yang rusak bisa mencapai 5-10% setiap tahunnya. Akibatnya, daya ingat melemah, dan saraf otak banyak yang tidak berfungsi dengan baik lagi. Akibatnya, seseorang akan mengalami kesulitan untuk mengingat dan berkonsentrasi, ujar Sutarto.
BANYAK CARA MELATIH OTAK
Bagaimana cara melatih otak agar tetap dapat berfungsi dengan baik? Jangan dulu Anda membayangkan harus membaca text book tebal yang membosankan, seperti ketika kuliah dulu. Melatih otak sebenarnya merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan dan dapat dilakukan kapan saja.
DIPENGARUHI GAYA HIDUP
Disadari ataupun tidak, padatnya aktivitas sering kali menjauhkan kita dari gaya hidup sehat. Selain memicu kegemukan dan berbagai penyakit, seperti jantung, diabetes melitus, stroke, dan lain-lain, gaya hidup yang tidak sehat juga bisa mengganggu fungsi otak. Berikut ini beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk mengantisipasi penyakit tersebut.
Namun, selain dimensia, ada pula faktor lain yang menyebabkan seseorang mudah melupakan sesuatu. “Pada orang muda seperti Fitria, masalah yang mereka alami sebenarnya bukan termasuk gejala dimensia ataupun gangguan otak. Yang terjadi adalah kurangnya konsentrasi ketika sedang melakukan sesuatu, ujar Sutarto.
“Perbedaan antara organ manusia dan mesin adalah cara kerjanya,”tegas Sutarto. “Sebuah mesin akan cepat rusak jika intensitas pemakaiannya tinggi, sedangkan organ tubuh manusia justru makin terlatih dengan banyaknya aktivitas,” tambahnya.
“Pada orang dewasa, aktivitas mental seperti mengisi teka-teki silang, membaca, mendengarkan musik, mengambil kursus keterampilan, mempelajari bahasa asing, bahkan menonton film, dapat dilakukan untuk melatih ketajaman otak, Sutarto menjabarkan.
Kegiatan melatih otak terutama perlu mulai dilakukan sejak usia 25 tahun. Pasalnya, sebelum usia tersebut, aktivitas otak dan fisik sudah terpenuhi melalui kegiatan sekolah, kuliah, serta berbagai macam kegiatan dan permainan. Lain halnya ketika usia kita bertambah dan mulai mengerjakan rutinitas pekerjaan yang kurang bervariasi, sehingga kurang dapat merangsang perkembangan otak secara seimbang.
- Latihan kebugaran. Mulailah berolahraga secara teratur, dengan jumlah berikut kualitas olahraga yang cukup. Jangan lupa untuk beristirahat.
- Penuhi kebutuhan gizi sehari-hari. Protein yang banyak terdapat pada ikan, daging, serta biji-bijian seperti kedelai maupun produk olahannya, amat baik bagi pembentukan sel-sel otak. J
- Kurangi makanan berlemak. Batasi konsumsi junk-food.
- Pilih minuman rendah gula. Pilihlah aneka buah segar sebagai pengganti minuman ringan. Selain memiliki kadar gula alami, buah juga berfungsi sebagai antioksidan.
- Jauhi stres. Beban pikiran yang terlalu berat pada akhirnya bisa menimbulkan depresi. Oleh karena itu, belajarlah mengelola dan menyikapi masalah serta hadapi segala sesuatu secara optimistis.
- Cukup beristirahat. Sebaiknya Anda memiliki jam tidur yang cukup dan teratur setiap hari. Sebab, siklus tidur yang tidak teratur bisa menurunkan stamina serta melemahkan daya konsentrasi.
semoga bisa bermanfaat…
Sumber: vivanews.com & femina-online.com